Mengelola Transformasi Digital Dengan Metode Agile

Posted by

Mengelola-Transformasi-Digital-Metode-Agile

Tantangan besar apa saja yang harus diatasi agar proses transformasi digital sukses, dan metode pendekatan apa yang tepat agar proses transformasi tetap berfokus pada sumber daya manusia?

Teknologi baru muncul dan berkembang membawa tren transformasi digital yang mengganggu model bisnis tradisional, namun di sisi lain menjanjikan potensi baru bagi mereka yang mampu beradaptasi dengan cepat. Transformasi digital melibatkan penggunaan teknologi yang mengubah cara bisnis beroperasi, menciptakan produk, merampingkan proses, dan meningkatkan pengalaman pelanggan.

Saat ini, sangat penting untuk menerima  perubahan dan mengupgrade sistem lama dan proses manual menuju inovasi digital, untuk memanfaatkan teknologi yang terus berkembang seperti Cloud Computing, Collaborative Robots, Artificial Intelligence / Machine Learning, Big Data, Internet of Things,  3D Printing, E-commerce, Blockchain, dan Mobile Payments. Bahkan, penerapan teknologi mutakhir ini tak lagi hanya milik perusahaan besar, tapi juga diadopsi atau diakses oleh bisnis kecil. Tren ini memaksa banyak bisnis untuk memikirkan kembali operasi mereka dan meninjau situasi tenaga kerja.

Meski banyak perusahaan menyadari pentingnya transformasi digital, menerapkannya secara menyeluruh ke dalam setiap aspek bisnis tidaklah mudah. Transformasi dalam dunia bisnis bukanlah perjalanan yang hanya dilalui oleh para pemilik bisnis atau suatu departemen saja seperti IT, melainkan milik semua stakeholder. Diperlukan komitmen dan budaya belajar yang kuat dalam suatu organisasi untuk terus berkembang dan berinovasi.

Pemimpin dan manajemen akan menghadapi tantangan besar dalam mempelajari proses baru, memahami perangkat dan teknologi yang kompleks, mempersiapkan keamanan data, keterbatasan anggaran, mengatasi resistensi karyawan terhadap perubahan, dan menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan pelanggan. Maka manajemen harus memiliki strategi untuk mengatasi tiap tantangan dari proses transformasi itu. Disinilah metodologi Agile menjadi pilihan untuk berkembang dalam  proses yang selalu berubah. Mengelola transformasi digital dengan metode Agile telah membantu banyak perusahaan seperti General Electric (GE), Nike, Huawei, Netflix, IKEA dan Nestle melaksanakan prosesnya secara berkelanjutan.

Baca juga :  Kartu Prakerja Membuat Pentingnya Reskilling dan Upskilling Tumbuh Menjadi Kesadaran Bersama

Mengelola transformasi digital dengan metode Agile mampu mengatasi tantangan karena tim akan bekerja secara adaptif, kolaboratif, dan interaktif. Prosesnya terdiri dari lima fase meliputi fase konsep, spekulasi, eksplorasi, adaptasi dan fase evaluasi. Tiap unit tim diajak terlibat, mencoba dan belajar memanfaatkan teknologi, memperbaiki kesalahan dan mampu membuat respon dan keputusan yang cepat ditengah laju perubahan. Proses transformasi terbuka untuk percobaan dan kegagalan. Ini mendorong pola pikir lama untuk berani  mempelajari keterampilan baru dan karyawan tidak resisten terhadap perubahan.

Proses transformasi dapat gagal karena disebabkan oleh keraguan dan kekuatiran organisasi dalam menyambut transformasi. Tenaga kerja merasa kuatir tidak dapat memahami teknologi, atau takut kecerdasan buatan atau robot akan menggantikan pekerjaan mereka. Pimpinan atau manajemen mungkin juga punya pemahaman yang keliru dalam mengadopsi pembaruan teknologi dan memandang sumber daya manusia bukan sebagai fokus utama.

Mengelola transformasi digital dengan metode Agile menempatkan manusia dalam peran utama, baik itu pihak manajemen, tenaga kerja, hingga pelanggan. Pimpinan akan lebih mudah menularkan ide perubahan dan berpeluang lebih besar untuk berhasil. Semua itu terlihat dari sifat metode Agile sebagai berikut.

  • Adaptif. Pengembangannya dari waktu ke waktu, memberi ruang perubahan dan peningkatan yang berkelanjutan, dan mendorong respons cepat.
  • Kolaboratif. Dikelola dan dikendalikan sendiri oleh tim di semua tingkatan dengan memberikan pengalaman eksplorasi yang menyenangkan dan aktif.
  • Interaktif. Ditinjau secara berkala oleh tim dalam fase pendek dan melibatkan umpan balik dari pengguna atau pelanggan.

Selain itu, metode Agile yang biasa digunakan dalam manajemen proyek merupakan proses pengembangan yang berkelanjutan, dinamis dan efektif. Ini artinya proses transformasi teknologi dipecah menjadi fase singkat yang dapat dikelola, dengan anggaran yang dapat disesuaikan, dimana tim dapat belajar dan berkembang, mengevaluasi hasil sebelumnya lalu melanjutkan. Dalam hal ini, perusahaan melakukan efisiensi karena dapat dengan cepat mengenali ketika hasil tidak tercapai dan kemudian beradaptasi untuk mengatasi masalah tersebut.

Baca juga :  Siap Menghadapi Segala Perubahan dan Tantangan dengan Lifelong Learning

Pengembangan dengan metode Agile memberi dukungan penuh kepada sumber daya manusia dengan memberi pelatihan, memberi peran kepemimpinan dan peran sebagai agen perubahan. Beberapa individu berbakat dapat menjadi pelatih dan pemimpin. Mereka dapat dibekali dengan keahlian dan wawasan teknologi yang berbeda-beda seperti Artificial Intelligence / Machine Learning, Big Data, Process Automation, Software Applications, dan Internet of Things. Dalam organisasi modern, pemahaman data dan teknologi merupakan  kebutuhan tiap divisi, dan sebagai pelaku utama dari transformasi, tiap individu juga harus mengasah keahlian sosial-emosional (soft skill) agar proses adaptasi, kolaborasi, dan interaksi bisa berjalan lancar dan berkelanjutan.**