Mewujudkan Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi Melalui Teknologi Digital

Posted by

Keberagaman Kesetaraan Inklusi Digital

Selain membangun kesadaran akan prinsip keberagaman, kesetaraan, dan inklusi di tempat kerja, keterlibatan dan kepuasan karyawan dengan alat pembelajaran dan pengembangan juga meningkat berkat teknologi digital.

Secara global, semua perusahaan Fortune 100 telah membuat komitmen publik terhadap Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi di tempat kerja pada Juli 2022. Kebijakan atau prinsip yang dikenal dengan Diversity, Equity and Inclusion (DEI) ini diuraikan di situs web mereka untuk mencegah diskriminasi dan sebagai strategi membangun budaya kerja lebih kondusif. Demikian juga Undang-undang Ketenagakerjaan Indonesia mengamanatkan kesempatan kerja, penempatan dan perlakuan yang adil, objektif, tanpa diskriminasi.

Keberagaman di tempat kerja akan membawa pengalaman, aspirasi, dan perspektif baru yang dapat membantu dan meningkatkan proses bisnis suatu organisasi. Keberagaman berkaitan erat dengan kesetaraan, dimana organisasi dan proses di dalamnya berjalan tidak memihak, adil dan memberikan akses dan kesempatan berkembang untuk setiap orang di dalamnya.

Inklusi adalah sikap terbuka yang menjadi wadah untuk menjaga keberagaman. Setiap orang merasa diri beserta keunikannya diterima dan didukung untuk terlibat dan mengeluarkan potensi terbaiknya. Menurut laporan Deloitte Review: The Diversity and Inclusion Revolution, perusahaan dengan budaya inklusif dua kali lebih mungkin untuk mencapai target keuangan, delapan kali lebih mungkin mencapai hasil bisnis yang lebih baik, serta enam kali lebih tangkas dan inovatif.

Maka prinsip keberagaman, kesetaraan, dan inklusi akan menciptakan kolaborasi dan budaya kerja organisasi yang lebih berkembang. Tingkat keberagaman, kesetaraan, dan inklusi erat kaitannya  dengan keterlibatan, inovasi, produktivitas, retensi serta kesejahteraan tenaga kerja. Organisasi juga lebih fleksibel dan punya kemampuan adaptasi dengan perubahan pasar dan teknologi.

Di sisi lain, organisasi yang mengalami transformasi digital membutuhkan lingkungan yang terbuka dan dinamis, dengan keberagaman pengalaman, intelektual, sudut pandang dan budaya. Semua aspek DEI ini akan mendorong terciptanya budaya belajar yang diharapkan tumbuh dalam menyikapi perkembangan teknologi.

Baca juga :  Teknologi AI dan IoT Sebagai Fundamental dalam Revolusi Industri

Demikian pula sebaliknya, perusahaan dapat lebih mudah mewujudkan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi melalui teknologi digital. Prosesnya dapat dilakukan dalam proses rekrutmen, penempatan, pembelajaran dan pengembangan hingga ke operasional, pemasaran dan pelayanan pelanggan. Mengingat kepentingan strategis transformasi digital dan membangun lingkungan kerja yang beragam dan inklusif, diperlukan upaya dan perubahan besar untuk mewujudkannya. Pihak yang tepat untuk mendorong inisiatif ini adalah pemimpin puncak dalam organisasi.

Penggunaan perangkat lunak atau aplikasi digital dalam departemen Sumber Daya Manusia (SDM) dapat  mendukung prinsip keberagaman, kesetaraan, dan inklusi melalui proses rekrutmen, penempatan, dan pengembangan SDM. Dengan memanfaatkan perangkat lunak atau aplikasi digital, pimpinan perusahaan atau organisasi memastikan bahwa rekrutmen dan penempatan tenaga kerja mereka terdiri dari beragam individu yang didukung oleh lingkungan yang adil dan inklusif. Fitur dari aplikasi dapat menyaring sumber kandidat yang beragam, menganonimkan profil dan menghapus informasi pribadi dari proses penyaringan. Karena sadar tak sadar, proses rekrutmen seringkali dipengaruhi oleh penilaian subyektif atau diskriminasi ras, gender, agama, status perkawinan, etnis, dan latar belakang sosial ekonomi.

Fitur Artificial Intelligence dari aplikasi mengidentifikasi kandidat yang memenuhi syarat, membuat dan menyempurnakan deskripsi pekerjaan yang tidak memihak, serta mengelola lamaran yang masuk secara obyektif. Pimpinan dan Manajer SDM dapat melibatkan tenaga kerja yang beragam dan membangun kesempatan yang sama bagi semua staf di tempat kerja, dan mendorong terciptanya lingkungan kerja yang inklusif.

Kemudian untuk fungsi pengembangan SDM, aplikasi digital menjadi platform yang efisien dan mudah diakses untuk mendukung aktivitas pembelajaran Microlearning dalam rangka pengembangan keterampilan dan kepemimpinan. Admin menyiapkan konten pembelajaran dan mengundang karyawan untuk masuk ke aplikasi melalui email, melalui Slack atau Microsoft Teams.

Baca juga :  Membangun Ekosistem Pembelajaran Sepanjang Hayat yang Inklusif dan Efektif

Platform digital menjadi sarana pelatihan interaktif untuk membangun kesadaran, pola pikir, perilaku, dan praktik kepemimpinan yang diharapkan bagi individu, tim, dan organisasi. Dalam mewujudkan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi melalui teknologi digital, umpan balik dari  karyawan diperoleh secara real-time. Umpan balik ini menjadi wawasan berharga untuk membuat keputusan. Selain membangun kesadaran akan prinsip keberagaman, kesetaraan, dan inklusi di tempat kerja, keterlibatan dan kepuasan karyawan dengan alat pembelajaran dan pengembangan juga meningkat.**