Pengembangan Green Skills untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Posted by

Green-Skills-Pembangunan-Berkelanjutan

Transisi menuju dunia yang ramah lingkungan sangat penting untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, maka keterampilan hijau yang mendukung pelestarian lingkungan menjadi penting dalam berbagai sektor industri.

Perubahan iklim adalah ancaman lingkungan yang semakin nyata. Ditambah lagi perubahan iklim ini akan berdampak serius terhadap lapangan kerja, terutama angka pengangguran dan krisis biaya hidup, yang menempati urutan teratas dalam peringkat risiko global menurut temuan riset Global Risk Report tahun 2023 dari World Economic Forum (WEF). Salah satu solusi alternatif untuk mengurangi pengangguran tenaga kerja dan risiko krisis biaya hidup adalah melalui peningkatan keterampilan hijau atau keterampilan ramah lingkungan yang disebut dengan istilah Green Skills.

Menurut United Nations Industrial Development Organization, badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas mempromosikan dan mempercepat pembangunan industri, Green Skills adalah sebuah pengetahuan, kemampuan, nilai, dan sikap yang diperlukan untuk hidup, berkembang, dan mendukung masyarakat yang bersumber daya cukup dan berkelanjutan. Transisi  menuju dunia yang ramah lingkungan sangat penting untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Terlihat bahwa saat ini generasi muda semakin mencari peran yang lebih dalam mendukung keberlanjutan dan mendukung pengembangan Green Skills untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Indonesia berkomitmen untuk Net Zero Emissions (NZE) di 2060, maka keterampilan hijau yang mendukung pelestarian lingkungan menjadi penting dalam berbagai sektor industri. Pelatihan Green Skills telah masuk dalam program Kartu Prakerja karena diproyeksi membuka hingga 4,4 juta peluang kerja sampai 2030. Artinya terdapat banyak peluang untuk meningkatkan keterampilan hijau bagi tenaga kerja demi mendukung langkah Indonesia dalam mempercepat transisi energi.

Keterampilan hijau dapat menekan laju krisis finansial dan sumber daya alam. Manusia seringkali bergantung pada sumber daya alam yang tidak terbarukan sementara pertumbuhan populasi terus naik. Biaya hidup tinggi terjadi akibat semakin langkanya sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia yang semakin besar populasinya. Dengan memiliki keterampilan daur ulang misalnya, kaum muda dapat mengurangi konsumsi  barang dan biaya untuk membeli barang. Ini mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya yang tidak terbarukan dan biaya hidup yang harus dikeluarkan.

Baca juga :  Tantangan Bonus Demografi Membuat Persaingan Dunia Kerja Semakin Ketat

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengklasifikasikan Green Skills menjadi sebagai berikut.

  1. Cognitive competencies: kesadaran lingkungan dan kemauan untuk belajar tentang pembangunan berkelanjutan, keterampilan sistem dan analisis risiko, serta inovasi untuk menjawab tantangan hijau
  2. Interpersonal skills: koordinasi, keterampilan komunikasi dan negosiasi, lalu keterampilan pemasaran untuk mempromosikan produk dan jasa yang lebih hijau
  3. Intrapersonal competencies: kemampuan adaptif dalam menggunakan dan mempelajari alat teknologi baru, serta keterampilan wirausaha dalam menciptakan teknologi rendah karbon).

Membekali sumber daya manusia dengan keterampilan hijau adalah untuk memenuhi kebutuhan permintaan pekerjaan hijau (Green Jobs) dalam mendukung komitmen dan transformasi ekonomi Indonesia melalui strategi ekonomi hijau. Bapennas telah mempublikasikan Peta Okupasi Nasional Green Jobs, dan hingga Agustus 2022 telah teridentifikasi 191 okupasi. Peta okupasi tersebut fokus pada lima sektor Green Jobs yaitu, energi terbarukan, pertanian, manufaktur, konstruksi dan jasa pariwisata. Dari lima sektor tersebut, semua pekerjaan yang tersedia membutuhkan Green Skills, seperti spesialis konsultasi konservasi alam, analis kebijakan energi, editor lingkungan, spesialis pertanian organik dan lain-lain.

Green Jobs memiliki dampak bagi pembangunan ekonomi bangsa, khususnya dalam meningkatkan produktivitas dan aspek ketenagakerjaan. Hal ini juga telah mengubah arah bursa kerja dunia, yang tentunya semakin mendorong masyarakat dan komunitas global untuk beraksi bersama menurunkan emisi karbon atau ancaman krisis iklim lainnya.

Ketika ada kebutuhan tinggi terhadap keterampilan hijau ini, maka peran lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi sangat penting untuk mempersiapkan angkatan kerja bisa beradaptasi terhadap ekonomi hijau maupun ekonomi sirkular. Lembaga pelatihan harus jeli melihat keterampilan maupun kompetensi baru yang dibutuhkan.

Dalam pelaksanaannya, peran dan arah keterampilan hijau ini masih harus diselaraskan dengan kebutuhan industri. Perlu ada perbaikan kurikulum pendidikan formal dan program pelatihan dari  pendidikan non-formal yang memasukkan atau mengajarkan keterampilan hijau. Ada beberapa keterampilan yang potensial mendukung Green Jobs seperti keterampilan mendesain, kepemimpinan, keterampilan manajemen, keterampilan terkait energi, keterampilan perencanaan kota, keterampilan lansekap, keterampilan komunikasi, keterampilan pengelolaan limbah, keterampilan pengadaan barang dan jasa, dan keterampilan finansial.

Baca juga :  Tantangan Pembangunan Tenaga Kerja Indonesia

Peta Okupasi Nasional Green Jobs memegang peranan kunci dalam pengembangan sumber daya manusia melalui standardisasi kompetensi, pendidikan dan pelatihan vokasional, sertifikasi kompetensi hingga rekrutmen berbasis kompetensi. Manfaat Peta Okupasi Green Jobs akan banyak memberi kemudahan bagi para profesional, lembaga pendidikan, lembaga pelatihan, dan pelaku usaha ekonomi hijau dalam mengembangkan standar kompetensi, mengidentifikasi profil lulusan, mengembangkan desain pembelajaran, skema sertifikasi, mengembangkan rekrutmen berbasis kompetensi dan pemeliharan kompetensi, serta promosi usaha ekonomi hijau.**